Showing posts with label T-KEMANUSIAAN. Show all posts
Showing posts with label T-KEMANUSIAAN. Show all posts

Monday, April 6, 2009

SAJAK UNTUKMU- Nawi A.Rahman

Ada ketikanya
kita bersama di sini
mengharungi arus dan gelombang
mencari erti dalam kehidupan

Ada kalanya
kita berpegang tangan
merempuh onak dan duri
dalam belantara ini
merintis jalan kejayaan

Ada waktunya
kita mengukir senyuman
merasai kebahagiaan
menjejaki perjalanan masa
dengan penuh ketenangan

Pun begitu,
dalam keadaan begini
kepastian mula kuragukan
pada hari-hari menjelang
masih tetapkah kau di sini?


Nawi A Rahman
Kanowit
3 September 1992

TITIAN HIDUP - Lawrence Atot




Sesekali pelangi datang
meredah mentari dan hujan
mencorakkan warna-warna gemilang

di dalam lembah kehidupan.

Kehijauan alam
memagari cintakasih sejagat

menyemai benih-benih azam
pada batas setia dan semangat.

Kini tegak berseri
bangunan pencakar langit berdiri
mobil kian rakus berlari

membiak hari demi hari
memenuhi cita-cita harga diri.

Namun di jendela hidup ini
meratap unggas di rimba sepi
meratap ikan-ikan di dasar kali
meratap pungguk di kaki malam
menatap bulan berwajah suram

Pada keterasingan ini
ingin kutemui jalan hakiki
satu cita satu hari,
kerana

dunia akan memuntahkan laharnya
pada bakal pewaris bangsa
di sebalik kealpaan manusia.




Lawrence Atot
Quop, Kuching

LAUT KEMANUSIAAN - Lawrence Atot



Di laut kemanusiaan ini
ribut sangsi melanda acapkali
di sinilah berbaur warna berita
ada suka ada duka
ada syurga dan neraka
menemani edaran roda masa.

Sesekali kita menoleh ke belakang
kala sengsara merantai jiwa
sesekali kita lupa tangis bimbang
kala bahagia mencorak impian segala.

Gugur dedaun titis jernih
dari kelopak mata
adalah cerita dua makna
terkadang kuntuman duka maha pedih
terkadang bunga gembira mnaha ceria
mekar mewarnai putaran musim usia

Kalau langkahku kian sumbang
dicemari taufan kecundang
kuakui hanya teman sejati
bisa gerakkan hati jadi kudusuci.



Lawrence Atot
Quop, Kuching

Sunday, April 5, 2009

KUNANTI KAUPULANG



Kunanti kaupulang
ke sarang hati yang menyanyikan

dondang sayang
ladoh lanang.

Kunanti kaupulang
ke mata pandang yang menyaksikan

tari ajat
penca gertak
seni silat dan
kelahi Puteri Santubong.

Kunanti kaupulang
ke suluh indera yang mendengar

keluhan bayi
bisik sayang isteri juga
rengek suami yang payah
mencari realiti.

Kunanti kaupulang
ke ruang rasa yang menguji
pahit manis kehidupan
asam garam kemanusiaan
masam manis perhubungan
sesama kita insan yang dilahirkan.

Kunanti kaupulang
ke sudut-sudut intuisi
betapa nilai kita
yang penuh kemanusiaan
keperluan kita untuk bermanja

sekalipun pahit dimamah erti dewasa
kita sebenarnya penuh potensi
untuk menuntut segala
yang segan berkata-kata ialah
naluri hipokritisme yang
suram di mata sorotnya.

Dan aku terns menanti kaupulang
dalam kerinduan yang payah.



Jais Sahok,
Kuching.

AIR MATA - Latifah Haji Mohamad Sabli


air mata seorang ibu
yang tertakung di penjuru kalbu

adalah butir-butir rahsia pilu
yang sedih merantai pedih.

seorang ibu tidak akan menitis air mata
kerana antara daging darah dan nafas
terkunci cekalnya kerelaan
jika hatinya tidak sungguh tersentuh.

hanya Allah yang tabu kejadian
bagaimana mulanya air mata tertakung
yang terhakis dari sisa-sisa rasa sedih
terkumpul dari sekian banyak peristiwa
berteduh di kolam mata, kemudian
terlerai butir-butir mutiara
dari ikatanjurai-jurai lara
melepas rasa melerai derita
yang rahsianya air mata.



Latifah Haji Mohammad Sabli
RTM Kuching.

Saturday, April 4, 2009

SATU TAFSIRAN - Sriwati Labot



Kemungkinan
malam ini embun tidak lagi turun

membasahi mimpi yang hanya
berbalam
datang
di landasan usia
tapi sering hilang
di sebalik kelopak mata
malam pun semakin resah
semakin hangat
panjang dan kelam
membungkus langkah berani


Kemungkinan
mentari esok
akan hilang angin
dan dawn-dawn mudah kering
gugur berselerak
tidak lagi terkawal
jinak terpijak kaki yang berlari buas

rumput-rumput yang tumbuh pun
layu sebelum kembang

Lalu aku semakin tidak mengerti
tentang harga diri masyarakat
tentang air kali yang melimpah
tidak lagi sejernih dulu
hanya asyik membilang resah dari

sensitiviti
pandangan dan nilai sebuah tebing

semakin runtuh
dirempuh angin senja.




Sriwati Labot