Showing posts with label 1993. Show all posts
Showing posts with label 1993. Show all posts

Monday, April 6, 2009

KALAULAH DUKA - Hipani Alwi




Kalaulah duka
kedukaan meruntun hati kita
dan sememangnya kematian
banyak kematian mengingkar kebenaran.

Banyak darah telah tumpah
mengalir di bumi

Bosnia-Herzegovina
banyak salah telah ternoda
keadilan badan dunia
benarkah
benarkah kebenaran telah teraniaya

banyak nyawa telah terkorban.

Kalau duka
kita berduka kerana keadilan

keadilan yang hanya boneka
Amerika.

Banyak rintihan tiada berita
senyap-senyap dibedil
senyap-senyap diperkosa
anak-anak yatim piatu
manakah kebenaran
dan keperwiraan kemanusiaan

kalaulah duka
hanya luka-luka kemenangan.

Banyak kematian telah dibenarkan
kelukaan cinta alam
kedukaan bumi tercinta
banyak kesedihan telah terhimpun
di pinggir kota.

Kalaulah duka
kita benarkan bercerita
dan kita bangunkan panji-panji
kita akan berkata
kalaulah kita tabu
suara-suara hanya menyentuh bayang

kita ledakkan saja
bumi Bosnia-Herzegovina
dengan sejuta kebenaran.



Hipani Alwi
November 1992

BALADA IRAMA MEMORI - Lawrence Atot


Sesekali bila diri dirantai sepi
menjadikan aku si pengutip memori
antara daun-dauwn kenangan
yang layu bertaburan
di taman ingatan.


Aku menjadi keliru
bila resah mengundang rindu
pada desiran angin lalu
pada nyanyian cemara
pada siulan camar
sedang laut tak betah bergelora
dan pulau itu masih samar.

Maafkan aku wahai teman
kerana seringkali songsang perjalanan
maafkan aku duhai malam
kalau setia menjadi timbul tenggelam
di antara jendela bintang suram.

Jika siang ku menyulam mimpi
itu tandanya pencarian ku tak mati
kerana aku rindu pada
nyanyian unggas pagi

lambaian hijau rimba
ngalir sunyi sungai insani
kerana kini
keliru ku melata.


Lawrence Atot
Quop, Kuching

SUARA LUKA DI PADANG HANGUS - Nazri Hussein




Suaramu melepasi garis sempadan
daerah kecil ini ke pelosok mayapada

gema dukamu menakluki segenap ruang
dendam yang bercempera sambil menatap
warna bulan yang kehilangan sinarnya.

-lihatlah si pemabuk darah yang meratah maut
tanpa diundang
merampas harga kemanusiaan yang terjaja

sekian lama tanpa apa-apa pembelaan
mereka membina kemuliaan dari darah
syuhadah yang berguguran
sedang gema mujahid di medan Croatia-Bosnia

memarakkan laungan si pembunuh kejam
yang dahagakan hanyir bau arwahmu

Di penjuru padang yang rentung ini
s tua ini begitu setia menadah kedua tangan,
akan bangkitlah seorang al-ayubbi di padang jihad
sambil menggenggam pedang sabil agar nanti
titis-titis darah yang tumpah ini berganti

gerimis kedamaian menyempurnakan kesumat
yang mengalir di taman mawar Tuhan.



Nazri Hussein
Kuala Sibuti, Sarawak

KIRANYA - Johnson Yakut


Kiranya bunga sena ini
seringan angin
akan kusisipkan
rinduku
pada jejurainya

Kiranya mega berarak ini mengerti
akan kuuntaikan
sekalung bisik
buat gugur bersama hujan
di depan jendela kamarmu

Kiranya riak ini
hanyut seperti air surut
akan kuhulurkan
rindu yang terbuku ini

Kiranya aku kabus
yang tak pernah kering
akan kuistirahatkan kesejukan
di kelopak matamu

Kiranya siang ini
tak dijenguk malam
kembara kita akan lebih lama
tanpa sekilas jemu
meniti rasa

Namun segalanya
bagai gerimis basah
belayar diheret silau.


Johnson Yakut
Mukah

SUNGAI NYALAU - Nurul Aminuddin


Sungai Nyalau
senyum alirmu tak seranum silam
hening beningmu tak lagi sehalus sutera
lenggang semilangmu tak sesantun kelmarin
mimpi indahmu tak lagi ceria

semalam taufan memenggal lenamu.

Sungai Nyalau
kulihat di tebingmu membisul nanah
memecah ngalir hanyir deras dan marah

lalu mengarus tajam umpama halilintar
menujah segenap ruang dasar
luka mercik ke muara.


Sungai Nyalau
tragedi penderaanmu tak bertepi
gergasi bernama pembangunan rakus meratah

memamah rimbun hulumu tanpa perikealaman
jerit tangismu tenggelam ditelan gelombang haloba
biar sendu pilumu membelah belantara kola batu

tidak bisa melebur hati di kamar dingin
dan aku di sini nanar bertanya
mana teledera untukmu?




Nurul Aminuddin
Kg. Nyalau, Miri