Showing posts with label IG-HUJAN. Show all posts
Showing posts with label IG-HUJAN. Show all posts

Sunday, April 5, 2009

HUJAN SERONG - Roslan Jomel



1
hujan petang, turun menyerong

titik yang disorong angin
terhempas dan meleleh bagai tangisan

di dinding kaca tempias liar yang
menyelit dari tingkap memilih
tepi meja, kemudian bertakung timbul.

tompokan jernih berhenti lemah
seperti bergayut menahan isi kandungan

yang menggembung di dataran kaca licin
tiupan dari belakang telah menggoyang
ikatan di dinding, seperti tumpahan sisi gelas
yang melurut lemah.

2
hujan petang yang melanggar dinding luar

mengilukan ingatan mataku
titisan tersangkut di kaca tingkap kafe
mengirim kerlipan wajah tenang ayah
sedang berjalan memikul sepasang dayung

kolar bajunya menggigil seperti ekor ikan
agak perlahan dan terkeliru menembusi mendung

dia hilang di balik selekoh sungai
di tebing, pokok nipah bercabangan.


aku memeluk batang nibung di jambatan
hujan dan angin berbelitan
menderu ke telinga bagai menyanggahku
lumpur di seberang berkilauan dipancar
kulit tembakul dan sepit ketam.

apakah yang dicari ayah sewaktu hujan?
perahu kecilnya mudah mengalah
kepada tempuhan gelombang kapal
arus laut akan memusingkan haluan dan
buritan, akhirnya dia diusir tepi oleh
ribut yang lebih bertulang daripada harapannya.

hujan petang mengikatnya kepada watak air
yang lembut tetapi mencemuh
ranting pedada dan pucuk nipah
melindungi serabut perasaannya
perahu yang melintang anak sungai
dilambung dan menggoncang keliki
seperti menahan deburan hati.


3
di hujung dunia yang berair
alam kendur mengalahkan jari tangan

kehidupan daratan berhembus kencang
meninggalkan lumpur kering di betis
berdepan kota berbatu dan jaringan
muslihat daratan, dia berundur dihambat
bayang bangunan, seperti siput tertimbus
selut yang diburu air pasang.



Roslan Jomel
Ampang Utama

SEUSAI HUJAN DI KUBURAN - Abdillah Untong



Pabila bara nurani terpadam
seakan kita menggali kuburan
sambil sukma bersorak ria
membajaki nisan di permakanan sendiri

demikian
asyik meladeni sunyi suara batin
dalam dendang syandu
mentalkinkan wafat diri

sedang
di pinggir lahad
sahabat merelakan karibnya

pergi untuk tidak pulang-pulang

sementara di Taman
wangi setanggi tikam-menikam

dan tetes-tetes hujan
berangkat siap pulang ke langit

sambil
mengucap salam pamitan
buat aspal jalan
yang masih terlonta-lonta
minta dibasahi.



Abdillah Untong
Kuching.
17/l/2003