Showing posts with label T-AGAMA. Show all posts
Showing posts with label T-AGAMA. Show all posts

Monday, April 6, 2009

TIKA LALU DI SEBATANG JALAN - Matzidi Dris




sewaktu lalu di sebatang jalan
kutemui hujungnya bersimpang tiga
jalan ke rumah
jalan ke masjid
jalan ke pusara

sebelum jalan jalan itu
kukenali satu titian ranjau

kaca-kaca paku-paku
akan rela kupijak
untuk tiba
ke perhentian hayat kudratku





Matzidi Dris
Tanah Perkuburan Bahagian, Kuching
Media: The People's Mirror, 7 April 1991

DOA - Jeniri Amir



Siramilah tubuhku
dengan embun dingin di taman-Mu
sinarilah laluanku
dengan mentari tujuh langit-Mu
bagi mencairkan kerasku
sesekali aku tahu
aku menjarakkan ruang
memalingkan mukaku dari-Mu

Bukakan pintu-Mu untukku
biar aku jadi Taib, Munib dan Awwaab
singkarkanm segenap kekelaman
dan kabus kepalsuan dari daerah ini
agar kelak dapat aku
beristirahat ndi taman-Mu

berilah aku kesempatan
mandi di dua mata air
menghirup susu di sungai-Mu
bersua dengan bidadari
dan berteduh di pohon rendang
taman keredhaan-Mu.


Jeniri Amir,
SMKL Muara Tuang, Samarahan

Disiarkan dalam majalah sekolah Sri Muara, Oktober 1991.

Sunday, April 5, 2009

POHON MAKRIFAT - Basri Abdillah



Untuk mengenal pohon makrifat
mulailah dari akar syariat
waspadalah dengan belitan rotan

dipandang cantik durinya tajam.

Jika akar syariat sudah kuat
barulah berpaut di dahan tarekat
dalam berpaut hendaklah berhati-hati
boleh tergelincir kiranya lumut disangka rumput.

Jika dahan tarekat sudah ampuh
barulah meniti ranting hakikat
dalam meniti hendaklah teliti
kerana sampai di sini segala-galanya rumit sekali

ranting tak boleh patah
jika patah dan goyah
tumbanglah pohon makrifat.

Untuk mencari pohon makrifat
pasti bukan di panggung dunia
banyak Rawana berwatak Rama
bukan juga di masjid dan musala
jika beramal mengharap pahala
jika bersolat meminta syurga
jika berbakti ikhlas dijaja
jika bersedekah mengundang bangga.

Andai pohon makrifat tumbuhnya di neraka
masihkah berkira mencarinya
andai perintah sudah disanggah
masihkah mengaku sebagai hamba.

Untuk mencari pohon makrifat
tidaklah jauh sebenarnya dekat
kuak tabir alam, sejengkal is
sekali nafas sudah jelas
tak berbentuk tak berupa
tak boleh disentuh boleh dirasa.

Pohon makrifat
hanya kukuh tumbuh di taman hati

yang nafsunya tidak berbekas
lagi yang egonya sudah lebur
yang angkuh ya sudah tersungkur

di situ bermukim jiwa dan raga
akhir perjalanan kehidupan fana.


Basri Abdillah

RAMADAN - Yusuf Lotot



seperti malam kudirikan tiang-tiang rindu
menadah harap kuutus doa raja wali kudus

pintu tersua saat tiap kali tangan terbuka
mengintai pasrah di jendela nurani

menyesali setiap apa yang kulakukan telah
dunia hanyalah sebutir debu di baju rumi

ramadan ini, cinta datang bak sunti jelita
rasanya tak sabar kutunggu hadirmu laila

kasmaran aku bagai mabuk cendawan
rasanya tak bisa kulepas peluk rohani

kutangis setiap hari yang melangkah usia
entah bila untuk kita bisa bersatu lagi?




Yusuf Lotot
Kuching.

PENGANTIN - Ummy Hafiza Mahri



pada satu masa yang ditetapkan
kita pasti dirisik
pertunangan sejak azali
di hujung hidup nanti
berlangsungnya perkahwinanmu dengan maut

hantarannya – sakit dan nazak
tamu bertandang menghadiahkan sorak tangis
pengantin dimandikan
dipakaikan baju cantik putih

wangian gaharu dan cendana
keranda jadi pelaminan
pengantin bersanding sendirian

di arak keliling kampung
berkompangkan azan dan kalimah kudus
akad nikahnya bacaan talkin
berwalikan liang lahad
saksi pula nisan-nisan
siraman air mawar
keluarga terdekat menepung tawar

tiba masa pengantin
menunggu sendirian
malam pertama bersama KEKASIH
di kamar bertilamkan tanah

dan Dia menuntut janji
sucikah kita tatkala berpadu

pernahkah taubat sepanjang hayat
atau terkubur bersama dosa-dosa
dan Dia Kekasih itu
mungkin membawamu ke syurga

dan bisa juga melontarmu ke neraka



Ummy Hafiza Mahri

PERJALANAN KUDUS - Adi Badiozaman Tuah



memang perjalanan ini amat panjang dan berliku
ruang waktu dan batas sempadan deria berbaur dalam ketidakpastian

setiap tanjung adalah keresahan menghimpun keresahan
setiap teluk adalah kedukaan mengulangi kedukaan
setiap pelabuhan adalah tempat terkumpulnya segala hiba dan penyesalan

terperangkap dalam kesamaran arch dan hala tuju
permulaan dan penghujung terdapat di mana-mana, saling bertindihan

kebencian dan nafsu kebinatangan ghairah bercumbu di ranjang keganasan
harga sebuah nyawa dan nilai kemanusiaan terlalu kecil dan rapuh
pada setiap masa dan ketika bisa saja dijual di pasaran angkuh
kedegilan membiak kedegilan dan kegilaan membenihkan kegilaan
di mana-mana manusia mulai kehilangan kemanusiaannya
memberi bukan kerana belas kasih atau simpati sesama insan
berkorban bukan kerana keinsafan dan keredaan
sembah bukan kerana menyedari kekerdilan dan keterbasan upaya

sekadar mengulang amalan tradisi turun-temurun tanpa soal bicara
bermukimlah segala macam rasa marah, benci dan dendam
pada setiap sudut dan ruang hati dan jiwa
sesungguhnya perjalanan ini amat payah dan meletihkan

kecuali bagi mereka yang beriman
sesungguhnya perjalanan ini amat suci dan memaknakan

setiap anak sungai kehidupan mengalirkan air rasa syukur
di sepanjang tebing tumbuh melata rasa reda dan takwa
pepohon iman utuh dan teguh berdiri memayungi segala
berjalanlah musafir dalam teduhannya dengan yakin dan pasti
bersantai dalam aman dan damai
membilang setiap ungkap syukur dengan nama Ilahi
menghitung setiap langkah dan perjalanan hari dengan akal dan kalbu

bersatulah wahyu dan ilmu di kamar suci ini
tegak dan merimbun akidah dan ibadah dalam setiap gerak dan langkah

sebenarnya perjalanan ini amat kudus dan mendamaikan
bagi mereka yang beriman
setiap denai kecil di belantara lugs adalah iktibar dan pengajaran

setiap lereng gunung dan kaki bukit adalah petunjuk dan hidayah
setiap telaga di gurun adalah ilmu dan syariat
setiap nyanyi burung adalah zikir dan ucap pasrah
setiap warna bebunga dan pelangi adalah cahaya keimanan

setiap denyut nadi adalah tauhid dan taufik
setiap embusan nafas adalah zikir kebesaran dan keesaan-Mu.



Adi Badiozaman Tuah
Kuching
16 Zulhijah 1422
bersamaan 1 Mac 2002

Wednesday, April 1, 2009

LORONG KASIH - Kelana Akira



Meniti hayat siratulmustakim
terpendam dalam carian diri
jasad derita bertongkat takwa
menugal akal, membaja iman

Masalah bersafkan uji
belum berlalu ujian lama
dugaan baru bertandang
berselang seli
Bila dirempuh iradat
nikmat perit melewati
madu-nya

Umpama dosa setiap detik
adalah tipu dan daya dunia
Suatu kenikmatan sementara
adalah ujian iman manusia

Terbentuk ainal-yakin
semakin bertambah ilmu,
semakin berliku rahsia-nya
Dari ketundukanku
kita hanyalah
mentafsir dunia warga akhirat

MAKNA DARI KEPEKATAN MALAM-MU - Bolhi Narani



malam yang tua itu
telah aku datangi
untuk meraba sertibu makna
yang belum pasti
terungkap nyata

dan betapa malam yang tua ini
kulihat kepekatannya-Mu adalah warna abadi
yang sedia terlukis
mewarnai Maya-Mu yang agung

lantas aku hanyut
pada lautan pertanyaan yang bergelora
mengapa bulan harus malu pada
kehadiranku
mengapa bintang-bintang menyanyikan
lagu kelipannya
mengapa angin menghembus lembuT
kedinginannya
mengapa deraian embun membasuh bumi

dan di sini (dalam kepekatan-Mu)
berlikau sebutir sinar atma-Mu
menerangi kegelapan kemelutanku
kerana aku pun tahu
kekuasaan-Mu
dan biarlah aku lari
dari penjara kelemut ini



MPS, Miri

HALAMAN DUKA - Hazami Jahari

Halaman duka
di hadapan kita
menanti dengan setia
mengajak beermain dan bekejaran
di atasnya

lalu bermainlah kita
hingga keletihan menghambat
nafas dada kemanusiaan
yang kosong dari ketabahan
yang kosong dari yakin sebuah iman

berehatlah kita di situ
sedang permainan belum lagi berakhir
dan hari belum lagi senja

sesungguhnya di belakang halaman duka
ada rumah pintu terbuka
menanti dan mengundang
bila malam menamatkan permainan siang
untuk kita berehat selamanya

mungkinkah kita mampu
menamatkan permainan siang itu
dan berehat di rumah bahagia?


Hazami Jahari
Petaling Jaya 91