Showing posts with label P-SRIWATI LABOT. Show all posts
Showing posts with label P-SRIWATI LABOT. Show all posts

Sunday, April 5, 2009

MENGANYAM KESEMPURNAAN - Sriwati Labot



Dengan jemari hati yang suci
belahlah rotan-rotan keinsafan
raut dengan pisau tawakal
jemurkan di pelantar sedar
agar hijaunya menjadi matang
agar rapuhnya menjadi teguh
dipancari cahaya fikir

Silangkan bilahnya satu-persatu
dengan saksama
tindihkan dengan warna-warna keseimbangan

dunia dan akhirat
bentukkan dengan kreativiti berpandukan

iman dan kalam tuhan
biar penjurunya berpusar dari ketentuan yang

satu

Andai bilahnya tersasar
berpatahlah ke bucu sedar
usah gusar jadikan iktibar
andai anyaman jarang berlubang

rapatkan segala bilah-bilah takwa
agar sesempurna pintaan yang esa
meskipun belum tentu

Teruskanlah anyaman ini
setabah usia menganyam hari
hati-hatilah mengatur silang
agar tindihan tidak menyimpang
ingatlah pada hala hakiki

penjuru illahi yang abadi
meskipun belum tentu pasti

Dengan rotan-rotan kehidupan
anyamlah bilah-bilah kesempumaan
meskipun belum tentu sempurna


Sriwati Labot

KEKASIH (II) - Sriwati Labot




Hanya engkau kekasih
yang menghadiahkan aku malam

bergemerlapan dengan
sinaran bulan kerdipan bintang
bergayutan tidak bertali
melangit tidak bertiang
menghias sebaris mimpi insani
seindah lukisan cinta lakaran
ya Rahman.

Hanya engkau kekasih
yang menghadiahkan aku siang

terang disinari cahaya matahari
mencipta bayang-bayang
yang misterinya tidak tertafsir

nyata tiada ketara
peneman setiap detik
penimbang setiap neraca
seluhur imbangan cinta di dada

ya Rahim.

Hanya engkau kekasih
yang menghadiahkan aku lautan

untuk dirangkai deburan ombak
untuk dipintal alunan gelombang
menjadi melodi kalam kasih
semerdu doa seorang pujangga
pada khusyuk simpuh tafakur
di atas hamparan sejadah buih
lembut semesra cinta belaian
ya Rabbi.

Hanya engkau yang satu.


Sriwati Labot

Saturday, April 4, 2009

SATU TAFSIRAN - Sriwati Labot



Kemungkinan
malam ini embun tidak lagi turun

membasahi mimpi yang hanya
berbalam
datang
di landasan usia
tapi sering hilang
di sebalik kelopak mata
malam pun semakin resah
semakin hangat
panjang dan kelam
membungkus langkah berani


Kemungkinan
mentari esok
akan hilang angin
dan dawn-dawn mudah kering
gugur berselerak
tidak lagi terkawal
jinak terpijak kaki yang berlari buas

rumput-rumput yang tumbuh pun
layu sebelum kembang

Lalu aku semakin tidak mengerti
tentang harga diri masyarakat
tentang air kali yang melimpah
tidak lagi sejernih dulu
hanya asyik membilang resah dari

sensitiviti
pandangan dan nilai sebuah tebing

semakin runtuh
dirempuh angin senja.




Sriwati Labot