Showing posts with label T-ALAM. Show all posts
Showing posts with label T-ALAM. Show all posts
Monday, April 6, 2009
TITIAN HIDUP - Lawrence Atot
Sesekali pelangi datang
meredah mentari dan hujan
mencorakkan warna-warna gemilang
di dalam lembah kehidupan.
Kehijauan alam
memagari cintakasih sejagat
menyemai benih-benih azam
pada batas setia dan semangat.
Kini tegak berseri
bangunan pencakar langit berdiri
mobil kian rakus berlari
membiak hari demi hari
memenuhi cita-cita harga diri.
Namun di jendela hidup ini
meratap unggas di rimba sepi
meratap ikan-ikan di dasar kali
meratap pungguk di kaki malam
menatap bulan berwajah suram
Pada keterasingan ini
ingin kutemui jalan hakiki
satu cita satu hari,
kerana
dunia akan memuntahkan laharnya
pada bakal pewaris bangsa
di sebalik kealpaan manusia.
Lawrence Atot
Quop, Kuching
Labels:
1992,
GB-NARATIF,
IG-AKTIVITI HIDUP,
IG-BINAAN,
IG-HIJAU,
IG-PELANGI,
IG-UNGGAS,
N-KEINSAFAN,
P-LAWRENCE ATOT,
S-5,
T-ALAM,
T-KEHIDUPAN,
T-KEMANUSIAAN
SUATU PERJALANAN - Lawrence Atot
Dingin malam sepi mencengkam
danau hati berkocak sunyi
berbaur ilusi ke muara mimpi.
Menatap arca hidup ini
terasa betapa kerdilnya diri
meniti usia di kaki hari,
sedangkan roda-roda waktu
berputar kian laju
tanpa lesu-lesu
mengiringi jalan berliku
yang penuh debu.
Kukutip bicara malam
antara kerdipan bintang suram
barangkali ada ketikanya
sang hujan kan menyapa
panah-panah arjuna
meranap harapan segala
rama dan sita
namun perjuangan tetap bermukim
berbunga di setiap musim.
Lawrence Atot
Quop, Kuching
Labels:
1992,
GB-EMOTIF,
N-MELANKOLIK,
P-LAWRENCE ATOT,
S-3,
T-ALAM,
T-EMOSI,
T-KEHIDUPAN,
T-KESEPIAN
KIRANYA - Johnson Yakut
Kiranya bunga sena ini
seringan angin
akan kusisipkan
rinduku
pada jejurainya
Kiranya mega berarak ini mengerti
akan kuuntaikan
sekalung bisik
buat gugur bersama hujan
di depan jendela kamarmu
Kiranya riak ini
hanyut seperti air surut
akan kuhulurkan
rindu yang terbuku ini
Kiranya aku kabus
yang tak pernah kering
akan kuistirahatkan kesejukan
di kelopak matamu
Kiranya siang ini
tak dijenguk malam
kembara kita akan lebih lama
tanpa sekilas jemu
meniti rasa
Namun segalanya
bagai gerimis basah
belayar diheret silau.
Johnson Yakut
Mukah
Labels:
1993,
GB-NARATIF,
IG-ALAM,
IG-SUNGAI,
P-JOHNSON YAKUT,
S-6,
T-ALAM
SUNGAI NYALAU - Nurul Aminuddin
Sungai Nyalau
senyum alirmu tak seranum silam
hening beningmu tak lagi sehalus sutera
lenggang semilangmu tak sesantun kelmarin
mimpi indahmu tak lagi ceria
semalam taufan memenggal lenamu.
Sungai Nyalau
kulihat di tebingmu membisul nanah
memecah ngalir hanyir deras dan marah
lalu mengarus tajam umpama halilintar
menujah segenap ruang dasar
luka mercik ke muara.
Sungai Nyalau
tragedi penderaanmu tak bertepi
gergasi bernama pembangunan rakus meratah
memamah rimbun hulumu tanpa perikealaman
jerit tangismu tenggelam ditelan gelombang haloba
biar sendu pilumu membelah belantara kola batu
tidak bisa melebur hati di kamar dingin
dan aku di sini nanar bertanya
mana teledera untukmu?
Nurul Aminuddin
Kg. Nyalau, Miri
Labels:
1993,
GB-NARATIF,
IG-SUNGAI,
N-MARAH,
P-NURUL AMINUDDIN,
S-3,
T-ALAM,
T-SUNGAI
LAUT SIBUTI - Nazri Hussein
Laut biru dan deru ombak memutih di pinggiran
kujelajahi jua pantai resahmu
laut Sibuti; temali arus yang mengumpul
dari hujung muaramu
adalah bahasa angin yang memintal cinta
seorang pendayung terusik oleh
riak kucah yang mewarnai pintu senja.
Lenggang tarimu yang mengimbau rasa
kususuri pada alunan gerak air
memukau sejuta mimpi tak terucap
bersama kelembutan angin dan kemanisan bicara
menjemput rinduku pada akrab kasihmu
akulah buih-buih yang pecah
saat memijari pantaimu.
Laut Sibuti
bagai lambaian seorang perawan
aku tergoda dari penahan cintamu
redup dan mengasyikkan.
Nazri Hussein
Kuala Sibuti, Sarawak
Labels:
1991,
GB-EMOTIF,
IG-LAUT,
M-MM,
N-MELANKOLIK,
P-NAZRI HUSSEIN,
S-3,
T-ALAM,
T-LAUT
Sunday, April 5, 2009
PEREMPUAN YANG BERKALUNG REBEN DI TENGKUK KACANYA - Roslan Jomel
usia menampal kering daun
melekukkan pipinya
yang dilara kuning tahun.
pagi mengheret hablur sejuk
hawa cahaya subuh
melintas kerut dahi
dengan hujung jarinya tipis berpalit
getah bawang dan hitam mata pisau
ketika dia berdiri khayal
membelakang siang di pintu dapur.
mukanya beralun bingung
terasing oleh deru hidup
dengan runcing siku dia menurun tingkap,
diapung malap lampu mentol
suaranya berdesing ke hati
bengkok di mata
melayang kerlip mimpi pada keping cermin
tapi tapak kakinya halus
di halaman rumah.
ceritanya berpasir garam
bau basah buih sabun melumur lantai
dan kain yang dilambung ampaian,
tua perasaannya
di batik tenang angin celah bungs belimbing.
sungai surut pasang
pucuk nipah meliukkan mendung hari
matahari menyala lemah gelombang tembakul
di selut tebing senget pedada luruh
dan slam menghampiri rantingnya.
dia terpaku meramas buluh pagar
rambutnya melayang dari simpulan
seperti mengembangkan gemuruh dada,
payung menitik batu hujan
renda gaunnya berdesiran manik,
mungkinkah dia bermimpi lagi?
betapa putih telapak tangannya
menyorong pagi kepada kami
wujud seperti pohon sandar
dengan melilit reben di tengkuk
dialah perempuan dikalungkan kaca
miring berbaring dihanyutkan malam
di sisi katil cekung merenung
bayang hati di cermin
kelat dan keruh melapis hidupnya
sementara kami
terhampar lena atas hijau baldu.
Roslan Jomel
Labels:
2007,
GB-NARATIF,
IG-AKTIVITI HIDUP,
IG-METAFORA ALAM,
N-KEINSAFAN,
P-ROSLAN JOMEL,
S-7,
T-ALAM,
T-EMOSI
HUJAN SERONG - Roslan Jomel
1
hujan petang, turun menyerong
titik yang disorong angin
terhempas dan meleleh bagai tangisan
di dinding kaca tempias liar yang
menyelit dari tingkap memilih
tepi meja, kemudian bertakung timbul.
tompokan jernih berhenti lemah
seperti bergayut menahan isi kandungan
yang menggembung di dataran kaca licin
tiupan dari belakang telah menggoyang
ikatan di dinding, seperti tumpahan sisi gelas
yang melurut lemah.
2
hujan petang yang melanggar dinding luar
mengilukan ingatan mataku
titisan tersangkut di kaca tingkap kafe
mengirim kerlipan wajah tenang ayah
sedang berjalan memikul sepasang dayung
kolar bajunya menggigil seperti ekor ikan
agak perlahan dan terkeliru menembusi mendung
dia hilang di balik selekoh sungai
di tebing, pokok nipah bercabangan.
aku memeluk batang nibung di jambatan
hujan dan angin berbelitan
menderu ke telinga bagai menyanggahku
lumpur di seberang berkilauan dipancar
kulit tembakul dan sepit ketam.
apakah yang dicari ayah sewaktu hujan?
perahu kecilnya mudah mengalah
kepada tempuhan gelombang kapal
arus laut akan memusingkan haluan dan
buritan, akhirnya dia diusir tepi oleh
ribut yang lebih bertulang daripada harapannya.
hujan petang mengikatnya kepada watak air
yang lembut tetapi mencemuh
ranting pedada dan pucuk nipah
melindungi serabut perasaannya
perahu yang melintang anak sungai
dilambung dan menggoncang keliki
seperti menahan deburan hati.
3
di hujung dunia yang berair
alam kendur mengalahkan jari tangan
kehidupan daratan berhembus kencang
meninggalkan lumpur kering di betis
berdepan kota berbatu dan jaringan
muslihat daratan, dia berundur dihambat
bayang bangunan, seperti siput tertimbus
selut yang diburu air pasang.
Roslan Jomel
Ampang Utama
Labels:
2005,
GB-NARATIF,
IG-HUJAN,
IG-KAFE,
IG-PERAHU,
N-KEASYIKAN,
N-MELANKOLIK,
P-ROSLAN JOMEL,
S-7,
T-ALAM,
T-HUJAN,
T-KEKELUARGAAN
RUMAH INI, SAKSI BISU - Norsari Haji Abdul Hadi
Rumah ini pernah
menimang anak-anak huninya
dari generasi ke generasi
Rumah ini
pernah menjadi saksi
kedukaan dan kebahagiaan
kegagalan dan kejayaan
Rumah ini, biar pun
hampir condong di terjah zaman
namun cekal menanggung bebanan
Rumah ini, saksi bisu
cekal menyimpan kenangan
saksi bisu, berjanji pada sang mentari
tidak gentar pada hujan walau sebesar lengan
tiada cabut walau di tendang sang badai
Rumah ini, saksi bisu
sepanjang zaman
Norsari Haji Abdul Hadi
Badong, Daro
SEUSAI HUJAN DI KUBURAN - Abdillah Untong
Pabila bara nurani terpadam
seakan kita menggali kuburan
sambil sukma bersorak ria
membajaki nisan di permakanan sendiri
demikian
asyik meladeni sunyi suara batin
dalam dendang syandu
mentalkinkan wafat diri
sedang
di pinggir lahad
sahabat merelakan karibnya
pergi untuk tidak pulang-pulang
sementara di Taman
wangi setanggi tikam-menikam
dan tetes-tetes hujan
berangkat siap pulang ke langit
sambil
mengucap salam pamitan
buat aspal jalan
yang masih terlonta-lonta
minta dibasahi.
Abdillah Untong
Kuching.
17/l/2003
Labels:
2003,
GB-SIMBOL,
IG-ALAM,
IG-HUJAN,
IG-KUBURAN,
N-INTROSPEKTIF,
N-KEINSAFAN,
P-ABDILLAH UNTONG,
S-3,
T-ALAM,
T-EMOSI
HANYA POHON YANG REDUP ITU - Desmond Manja Gasan

di tebing sungai ini
pepohon reduplah yang tahu
pepohon reduplah yang tahu
rahsia runtuhan pepasir itu
kalau air menghempas akar-akar
kalau air menghempas akar-akar
meledak gelora ke tebing hijaunya
hanya pohon reduplah yang tahu
.
.
apakah batu-batu masih seperti dulu
kekal menahan luka
atau benarkah sudah sekian lama
atau benarkah sudah sekian lama
ia memesrai akar dan batu
maka tidak lagi terdengar khabar
maka tidak lagi terdengar khabar
tidak lagi terjerit pedih
hanya pohon yang redup itu yang tahu!
Desmond Manja Gasan
Kanowit
Labels:
1999,
GB-SIMBOL,
IG-PASIR,
IG-POHON,
IG-SUNGAI,
N-KEINSAFAN,
P-DESMOND MANJA GASAN,
S-2,
T-ALAM
Saturday, April 4, 2009
KITA DI ANTARA PULAU DAN TANJUNG - Piee Ling
Sebenarnya belum lama kita menganyam kata-kata
tentang erti sebuah persahabatan
tentang erti sebuah keakraban
pada sebuah pertemuan
tapi aku menjadi terlalu memendam rasa
betapa perkenalan muda tertancap erat ke jantung
lalu menjalarkan bunga puisi bertangkaikan rindu
bergayutan di dahan rasa halus yang sukar
dimengerti
Dalam diam lahir segumpal rasa
berbibit di lubuk hati
berdetik minta dibelai – mesra
berdenyut minta didakap – manja
yang telah lama ketandusan wirama dinta
Pun begitu bukan kutagih irama kasih
darimu yan barn tahu erti mahalnya rindu
kerana hak menawar di tangan kananmu
dan hak membeli di tangan dirimu
aku juga bukan sesat dalam diri
kerana nalarku malar menjalar
ketika menyelisir sungai impian ini
kerana selamanya kusedar ada jeram
yang sedia menanti
kerana selamanya kusedar ada liku
yang perlu dilalui
dan aku pastinya tak mampu mendustai diri.
Namun di antara impian ini
ada jarak yang sukar dirapat
ada lautan luas pemisah antaranya
kerana aku di tanjung rancang
kau di pulau berbalam
Piee Ling
Labels:
1998,
IG-ALAM,
IG-TOPOGRAFI,
N-KEINSAFAN,
P-PIEE LING,
S-5,
T-ALAM,
T-EMOSI
Wednesday, April 1, 2009
MEMETIK BUNGA - Dahiri Saini
memetik bunga
petiklah dengan rasa cinta
bukan dengan cara sengketa
kerana bunga itu bunga milik kita
yang yang dibaja
bunga yang dijaga
.
memetik bunga
kumpulkan kuntumnya
menjadi karangan terindah
karangan bermadah
buat penyeri hati
buat penghias diri
.
memetik bunga
petiklah sesopannya
petiklah sesantunnya
dan letakkan di meja cita
kerana setiap kelopaknya
martabat kita
.
.
.
Kota Samarahan
Labels:
1994,
IG-BUNGA,
N-DIDAKTIK,
P-DAHIRI SAINI,
S-3,
T-ALAM,
T-PEKERTI
Subscribe to:
Posts (Atom)
