Showing posts with label 2002. Show all posts
Showing posts with label 2002. Show all posts

Sunday, April 5, 2009

JALAN PANJANG KE KAMPUNG I - Hipani Alwi



Seseorang yang diseksa akan selalu
memikirkan kerunsingan. Bukan diri
bukan payah bukan tangis bukan anak
dan bukan diri sendiri
lebih besar runsingnya terpenjara

ia ingin membebaskan kemiskinan
di kampung-kampung. Bukan caranya

anak Melayu membaca fitrah
ribut ini datang dari dalam diri
bukan runsing yang terpenjara


Seseorang yang diseksa akan selalu
bertanyakan kepada suaranya
kerana jeritan ini adalah kerunsingan

suaranya yang tidak kedengaran
kita bisa membaca kesedihan
di dada anak-anak kampung
dia pernah memberi rumah
kepada setiap warga yang parah

Sebenamya jalan ini terlalu panjang
untuk sampai ke kampung I
runsing yang dipikul sekian lama

masih juga tidak berdarah
masih juga tidak kalah
runsing yang diributkan
tidak juga pecah berkecai
walaupun lewat dendam bertaburan

walaupun lewat ratap berpergian
sebenarnya jalan ini terlalu panjang
untuk sampai menemui kebenaran

Seseorang yang diseksa akan selalu
memikirkan kepulangannya. Bukan kepada anak bukan kepada isteri
bukan kepada keluarga dan bukan ke kampung halaman
tetapi ke dalam masyarakat
masyarakat yang memberinya cinta

memberinya kasih dan sayang
ia akan memikirkan bagaimana
membangunkan masyarakat ini
masyarakat petani


Hipani Alwi

SIAPAKAH YANG MEMBISIKKAN CINTA - Taufiq Firdausi



siapakah yang membisikkan cinta
pada dada laut yang tidak kenal makna tengkujuh
pada sang nelayan yang baktinya hanya untuk ombak
siapakah yang membisikkan cinta
pada rimba hijau yang tidak kenal makna kemarau
pada sang petani yang setianya hanya untuk hujan

siapakah yang membisikkan cinta
pada ikan yang lincah menari lagu jernih air
sesekali tentu kepingin melihat birunya l

langit yang berawan emas

siapakah yang membisikkan cinta
pada pohon rendang tempat kita berteduh

dari panas getir ketika kelelahan membuka rimba

cinta itu sewajamya dimeterai pada alam
segala yang berwarna bukan untuk kekal dicemari
tangan-tangan kita yang jarang lelah untuk
jadi pemusnah
berdosakah ikan untuk sengaja diletupkan

agar hasilnya segera cepat
dan kepupusan kita biarkan

tanpa memikirkan masa depan generasi

berpesanlah untuk selalu jadi penyelamat
tuhan jadikan segalanya agar selalu kita
jaga keelokan ciptaan
kalau Firaun rela kita awet sebagai bukti

tamadun kejamnya
apakah kemusnahan ini mesti kita
teruskan agar esok orang lain jadi papa

belajarlah untuk menghargai sesuatu yang dipinjamkan
bumf hijau dan langit biru yang sedemikian cantik
biarkan mereka begitu tanpa
warna darah lagi

jangan biarkan anak-anak
menangis tanpa ayah
kerana ayah bukan berjuang
untuk j adi pembunuh

kitalah yang sewajarnya
membisikkan cinta
untuk merahmati alam yang kian lelah ini.


Mohd. Taufek Mohd Saed
Betong

MEMBINA KOTA SETIA - Pharo Abdul Hakim



Kota ini telah lama
meniti waktu sendu
menatap ratap warga setia

mencari makna merdeka

Kota ini adalah payung
melindungi cita bangsa
yang mencari mentari pagi
yang mengejar bianglala di kaki langit

yang membangun kehidupan
berteraskan kecekalan

Kota ini adalah perakam
cerita raja kesepian cinta
cerita warga terpenjara jiwa
cerita mimpi tidak bertepi
lalu dibasahi bumi ini
dengan darah merah
muram pertiwi
menatap maruah terserah

Kota ini adalah saksi yang pasti
mencatat longgokan bukti
siapakah yang setia
mengagungi cinta nusa
siapakah petualang
menjual martabat bangsa

Ketika tamadun dibangun
api perang membakar kota
ketika pembangunan menjadi agenda

warga kota mendepani resah fauna
luka flora dan rapat rimba

ketika keyakinan dicerna
dendam membakar upaya

Kota ini telah lama
menyusur musim rentas duka
menjejak setiap mentafsir makna manusia

memperkasa budaya menjaya upaya
ini kota legenda
taman tempat bercinta
tempat puteri melukis peta

kota raja kota pusaka
kota tempat membina setia
kota memaknakan erti merdeka.




Pharo Abdul Hakim
Kuching
15 Januari 2002

BAHASA YANG BASAH - Jaafar Haji Hamdan



Kemarau yang tiba
di ladang bangsa
mengering segala hijau rasa
dalam tunas bahasaku
yang masih setia
menjejak langkah yang ditinggalkan

pada musim bunga bangga
ketika menyubur segar

Dalam kemarau itu
bahasaku tetap gagah melangkah

sambil membawa bejana perjuangan
dari perigi akar bangsa
yang telah zaman-berzaman
membasah rongga bicara
bangsaku yang satu

Bagi bahasaku
perjalanan ini perlu diteruskan

walaupun bakal kudrat
Cuma sebejana cita
ketika merentas gurun gusar
yang dipenuhi debu pemodenan

dengan angin globalisasi
meniup segenap penjuru pembangunan

Sesekali bahasaku tersungkur
apabila langkah martabat
tersandung akar malu

tentang yakin bahasaku
masih belum mampu
membawa arah tuju
bangsaku yang satu

Tetapi bahasaku tidak resah
pada setiap waktu pasrah
kerana bahasaku adalah aku
dari bangsa yang satu

Nah, bahasaku masih basah
di bibir yang rekah!



Jaafar Haji Hamdan
10.09.02-16.10.02

PERJALANAN KUDUS - Adi Badiozaman Tuah



memang perjalanan ini amat panjang dan berliku
ruang waktu dan batas sempadan deria berbaur dalam ketidakpastian

setiap tanjung adalah keresahan menghimpun keresahan
setiap teluk adalah kedukaan mengulangi kedukaan
setiap pelabuhan adalah tempat terkumpulnya segala hiba dan penyesalan

terperangkap dalam kesamaran arch dan hala tuju
permulaan dan penghujung terdapat di mana-mana, saling bertindihan

kebencian dan nafsu kebinatangan ghairah bercumbu di ranjang keganasan
harga sebuah nyawa dan nilai kemanusiaan terlalu kecil dan rapuh
pada setiap masa dan ketika bisa saja dijual di pasaran angkuh
kedegilan membiak kedegilan dan kegilaan membenihkan kegilaan
di mana-mana manusia mulai kehilangan kemanusiaannya
memberi bukan kerana belas kasih atau simpati sesama insan
berkorban bukan kerana keinsafan dan keredaan
sembah bukan kerana menyedari kekerdilan dan keterbasan upaya

sekadar mengulang amalan tradisi turun-temurun tanpa soal bicara
bermukimlah segala macam rasa marah, benci dan dendam
pada setiap sudut dan ruang hati dan jiwa
sesungguhnya perjalanan ini amat payah dan meletihkan

kecuali bagi mereka yang beriman
sesungguhnya perjalanan ini amat suci dan memaknakan

setiap anak sungai kehidupan mengalirkan air rasa syukur
di sepanjang tebing tumbuh melata rasa reda dan takwa
pepohon iman utuh dan teguh berdiri memayungi segala
berjalanlah musafir dalam teduhannya dengan yakin dan pasti
bersantai dalam aman dan damai
membilang setiap ungkap syukur dengan nama Ilahi
menghitung setiap langkah dan perjalanan hari dengan akal dan kalbu

bersatulah wahyu dan ilmu di kamar suci ini
tegak dan merimbun akidah dan ibadah dalam setiap gerak dan langkah

sebenarnya perjalanan ini amat kudus dan mendamaikan
bagi mereka yang beriman
setiap denai kecil di belantara lugs adalah iktibar dan pengajaran

setiap lereng gunung dan kaki bukit adalah petunjuk dan hidayah
setiap telaga di gurun adalah ilmu dan syariat
setiap nyanyi burung adalah zikir dan ucap pasrah
setiap warna bebunga dan pelangi adalah cahaya keimanan

setiap denyut nadi adalah tauhid dan taufik
setiap embusan nafas adalah zikir kebesaran dan keesaan-Mu.



Adi Badiozaman Tuah
Kuching
16 Zulhijah 1422
bersamaan 1 Mac 2002