Ada ketikanya
kita bersama di sini
mengharungi arus dan gelombang
mencari erti dalam kehidupan
Ada kalanya
kita berpegang tangan
merempuh onak dan duri
dalam belantara ini
merintis jalan kejayaan
Ada waktunya
kita mengukir senyuman
merasai kebahagiaan
menjejaki perjalanan masa
dengan penuh ketenangan
Pun begitu,
dalam keadaan begini
kepastian mula kuragukan
pada hari-hari menjelang
masih tetapkah kau di sini?
Nawi A Rahman
Kanowit
3 September 1992
Sesekali pelangi datang
meredah mentari dan hujan
mencorakkan warna-warna gemilang di dalam lembah kehidupan.
Kehijauan alam
memagari cintakasih sejagat menyemai benih-benih azam pada batas setia dan semangat.
Kini tegak berseri
bangunan pencakar langit berdiri
mobil kian rakus berlari membiak hari demi hari memenuhi cita-cita harga diri.
Namun di jendela hidup ini meratap unggas di rimba sepi meratap ikan-ikan di dasar kali meratap pungguk di kaki malam menatap bulan berwajah suram
Pada keterasingan ini ingin kutemui jalan hakiki satu cita satu hari,
keranadunia akan memuntahkan laharnya pada bakal pewaris bangsa
di sebalik kealpaan manusia.Lawrence AtotQuop, Kuching
Dingin malam sepi mencengkamdanau hati berkocak sunyi
berbaur ilusi ke muara mimpi.
Menatap arca hidup ini terasa betapa kerdilnya diri meniti usia di kaki hari,
sedangkan roda-roda waktu
berputar kian laju
tanpa lesu-lesu
mengiringi jalan berliku
yang penuh debu.
Kukutip bicara malamantara kerdipan bintang suram barangkali ada ketikanya
sang hujan kan menyapa
panah-panah arjuna
meranap harapan segala
rama dan sita
namun perjuangan tetap bermukim berbunga di setiap musim.Lawrence AtotQuop, Kuching
Di laut kemanusiaan iniribut sangsi melanda acapkalidi sinilah berbaur warna berita ada suka ada duka ada syurga dan nerakamenemani edaran roda masa.Sesekali kita menoleh ke belakangkala sengsara merantai jiwasesekali kita lupa tangis bimbangkala bahagia mencorak impian segala.Gugur dedaun titis jernihdari kelopak mataadalah cerita dua makna terkadang kuntuman duka maha pedih terkadang bunga gembira mnaha ceriamekar mewarnai putaran musim usiaKalau langkahku kian sumbangdicemari taufan kecundangkuakui hanya teman sejatibisa gerakkan hati jadi kudusuci.Lawrence AtotQuop, Kuching
(buat bakal mentua)Maafkan kelancanganku menangguh
malam akad janji
bukannya cintaku berpaling lari atau seri bulan purnama enggan menyimbah cahaya pada setiap helai-helaian sirih junjung dari pihakmu
maafkan kebiadabanku enggan menyelak pintu hidup baru walaupun kocak riak hatimu amat memerlukannya meskipun kekunci itu di tanganku sesungguhnya pengertian darimu
kugarap jadi satu; menjadi suri segala suri harus bersedia terkunci dalam kota kaca janji binaan sendiri
maaf kerana kelancangan dan
kebiadaban ini. lima ribu serba satu tidak bisa menyambung retak-retak rindu ayah bondaku; bukanlah nasib yang bisa kutanak menjadi santapan arjunamu jua bukan syair rindu
yang boleh menghentikan rengek tangis cucumu di buaian harilima ribu serba satu sekadar menjunjung
adat yang tidak bisa dilangkahi
justeru maafkan aku, bakal menantumu yang belum mampu meracik sirih pinang sebagai
penyeri tepak sirih di sudut serambi tetamu hiduplima ribu serba satu adalah janji kesetiaan dalam percaturan ini;
bukan harga sebuah maruah yang dihadiahkan
padamu dan bukannya nilai cita-cita yangtergadai di puncak menara gading justeru maafkan kelancanganku menangguh malam akad janji
Noraisyah SyuhadahPPSSP, UPM